Second papers for this day.
Setiap hari pasti kita selalu berkomunikasi, sama teman, keluarga, dosen/guru dll. Tapi dalam keperawatan, sebuah komunikasi yang dilakukan pada pasien adalah hal yang berbeda atau biasa disebut dengan Komunikasi Terapeutik. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dilakukan/direncanakan oleh perawat pada kliennya untuk mencapai kesembuhan klien tersebut. Komunikasi ini berbeda dengan komunikasi sosial yang biasa kita lakukan dengan orang-orang diluar konteks klien. Berikut penjelasan lebih lanjutnya.
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Untuk menjadi bagian dari profesi
yang mulia seperti perawatan, adalah masalah kebanggaan dan prestasi
tersendiri. Meskipun orang mungkin menggunakan istilah “perawat” santai, hanya
mereka yang telah melihat kehidupan perawat akan memahami menghormati dan menghargai
yang masuk ke dalam profesi ini.
Perawatan bukan hanya profesi,
atau pekerjaan yang Anda butuhkan untuk melakukan selama timing shift. Ini
adalah tanggung jawab, pengkondisian perilaku, pendekatan terhadap orang, dan
dedikasi terhadap penyembuhan orang lain.
Untuk meringkas esensi dari
profesi ini, itu bukan tentang kualitas yang Anda dapat memperoleh untuk
menjadi perawat itu adalah tentang kualitas yang melekat bahwa Anda dilahirkan
dengan yang akan membuat Anda seorang perawat yang besar.Perawat dalam
berkomunikasi dengan pasien, termasuk komunikasi terapeutik.
Komunikasi
terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan
dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Komunikasi terapeutik mengarah pada bentuk
komunikasi interpersonal.Suatu bentuk pelayanan kesehatan kepada masyarakat
yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan
bio-psiko-sosial-kultural dan spiritual yang didasarkan pada pencapaian
kebutuhan dasar manusia.
Dalam
hal ini asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien bersifat komprehensif,
ditujukan pada individu, keluarga dan masyarakat, baik dalam kondisi sehat dan
sakit yang mencakup seluruh kehidupan manusia. Sedangkan asuhan yang diberikan
berupa bantuian-bantuan kepada pasien karena adanya kelemahan fisik dan mental,
keterbatasan pengetahuan serta kurangnya kemampuan dan atau kemauan dalam melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari
secara mandiri.
B. Rumusan
masalah
1.
Role
play skenario ini :
Perawat iwan, memulai hari
kerjanya dengan ronde ruangan untuk pengkajian, ia mengetuk pintu 203, menunggu
2-3 detik, dan kemudian masukin ruangan tersebut dengan bertemu dengan 2 orang
klien yang dirawat diruangan tersebut. Tn abdul, pelayan klien yang baru masuk
kemarin sore pintu sedang duduk bersandar di TT nya. Perawat iwan
memperkenalkan dirinya, “Selamat pagi pak abdul, saya perawat lita yang akan
merawat bapak sampai siang nanti. Ia mengulurkan tangan nya untuk menjabat
tangan pak abdul dengan mempertahankan kontak mata dan senyuman lembut. “
bagaimana tidurnya semalam?” ia betanya, dan menunggu respon klien tersebut.
Pak Abdul menjawab, perlu waktu
untuk bisa tidur, meskipun saya mengantuk, rasa tidak mudah untuk jauh dari
rumah. Di rawat diRS merupakan pengalaman baru bagi saya, saya kaget dengan
banyaknya orang dirumah sakit ini. Saat saya masuk RS, saya harus bicara dengan
tiga atau empat orang berbeda, ada yang mengaku dari laboratorium, kemudian
datang orang gizi, lalu dari radiologi, saya kira yang meminta mereka datang.
Pak Iwan, tidak menyangkal kalau
ada banyak jenis pegawai di RS, dan mempersilakan pak Abdul untuk mengajukan
pertanyaan tentang semua prosedur terkait dengan kondisinya bila pak Abdul
berasa bingung. Perawat iwan menutup tirai dan mulai melakukan mengkajian, dan
menjelaskan tujuan tindakan tersebut sebgai kegiatan rutin dan menjelaskan
bahawa tindakan rotgen akan dilakukan besok pagi.
Setelah kegiatan penkajian
selesai, perawat Iwan pamit kepada pak Abdul sambil mengatakan bahwa ia akan
kembali ke pak Abdul untuk memberikan obat pagi serta mengingatkan bila pak
Abdul butuh bantuan agar menghungi perawat menggunakan bel yang ada didekatnya.
2.
Komunikasi/
hubungan antara perawat – kien disebut dengan apa ?
3.
Coba
identivikasi apakah komunikasi perawat-klien dengan komunikasi anda-teman anda
sama bila bedacoba jelaskan perbedaannya?
4.
Apa
saja karakteristik dari komunikasi/ hubungan terapeutik?
5.
Kualitas
personal seperti apa yang dibutuhkan oleh seorang perawat agar komunikasi yang
dilakukan bisa membantu klien menjadi seseorang yang berharga dan menimbulkan
dampak bagi kesembuhan klien? Coba jelaskan dari masing-masing kualitas yang
diinginkan!
6.
Bagaimana
cara perawat meningkatkan kesadaran diri? Coba terangkan menggunakan jendela
Johari.
7.
(Masih
berada dalam kelompok)
Tujuan : Membantu Anda mengidentifikasi nilai-nilai
profesional, fokus dengan fungsi perawat
Prosedur: Isi tiap kata sifat dibawah ini dengan:
S: Bila kata tersebut
menggambarkan diri Anda.
P: Bila Anda merasa kalau
kata tersebut menggambarkan karakteristik ideal perawat
X: Bila tidak diinginkan
Setiap kata bisa diisi
lebih dari satu tanda.
______Hangat
______Peduli
______Perhatian
______Memiliki
Pendapat
_______Reliable
______Ambisius
______Assertif
______Intelektual
______Kompeten
______Penyendiri
______Efisien
_______Agresif
_______Pemalu
_______Pengasih
_______Bijaksana
_______Terampil
Diskusi:
Diskusikan dalam kelompok
karakteristik yang mereflesksikan diri Anda (S) dan karakteristik yang
merefleksikan Perawat (P)
a.
Mana
atribut yang berlabel S yang perlu untuk karir anda?
b.
Atribut
label P mana yang bisa dipelajari?
c.
Dalam
kelas, identifikasi enam atribut yang umum dipilih oleh mahasiswa dikelas yang
merefleksikan perawat ideal.
d.
Bagaimana
cara mendapatkan nilai-nilai profesional tersebut?
8.
a. Apa yang terjadibilanilai-nilai personal
andabertentangandengannilai-nilai professional?
b. Apa yang
akanandalakukanuntukmengatasikonfliknilaitersebut?
C. Tujuan
Umum
1.
Untuk
mengetahui definisi dari komunikasi terapeutikdannilai-nilai personal
maupun professional perawat.
D. Tujuan
Khusus
1.
Untuk
mengetahui dan memahami komunikasi terapeutik.
2.
Agar
calon perawat dapat menerapkan komunikasi terapeutik dalam menghadapi pasien.
E. Sistematika
Penulisan
Dalam makalah ini terdiri dari:
1.
Bab
1, Pendahuluan.
2.
Bab
2, Pembahasan.
3.
Bab
3, Penutup.
BAB II
PEMBAHASAN
Perawat iwan, memulai hari
kerjanya dengan ronde ruangan untuk pengkajian, ia mengetuk pintu 203, menunggu
2-3 detik, dan kemudian masukin ruangan tersebut dengan bertemu dengan 2 orang
klien yang dirawat diruangan tersebut. Tn abdul, pelayan klien yang baru masuk
kemarin sore pintu sedang duduk bersandar di TT nya. Perawat iwan memperkenalkan
dirinya.
Perawat iwan: “Selamat pagi pak abdul, saya perawat
Iwan yang akan merawat bapak sampai siang nanti. “
Ia mengulurkan tangan nya
untuk menjabat tangan pak abdul dengan mempertahankan kontak mata dan senyuman
lembut.
Perawat Iwan: “Bagaimana tidurnya semalam, Pak?”
Pak Abdul: “Perlu waktu untuk bisa tidur, meskipun
saya mengantuk, rasa tidak mudah untuk jauh dari rumah. Di rawat di RS
merupakan pengalaman baru bagi saya, saya kaget dengan banyaknya orang dirumah
sakit ini. Saat saya masuk RS, saya harus bicara dengan tiga atau empat orang
berbeda, ada yang mengaku dari laboratorium, kemudian datang orang gizi, lalu
dari radiologi, saya kira yang meminta mereka datang.”
Pak Iwan tidak menyangkal
kalau ada banyak jenis pegawai di RS, dan mempersilakan pak Abdul untuk
mengajukan pertanyaan tentang semua prosedur terkait dengan kondisinya bila pak
Abdul berasa bingung. Perawat iwan menutup tirai dan mulai melakukan mengkajian.
Perawat iwan: “Tujuan tindakan tersebut sebagai
kegiatan rutin dan tindakan rotgen akan dilakukan besok pagi.”
Setelah kegiatan penkajian
selesai, perawat Iwan pamit kepada pak Abdul sambil mengatakan bahwa ia akan
kembali ke pak Abdul untuk memberikan obat pagi serta mengingatkan bila pak
Abdul butuh bantuan agar menghungi perawat menggunakan bel yang ada didekatnya.
A.
KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Komunikasi antara perawat dengan
klien disebut KOMUNIKASI TERAPEUTIK. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi
yang dilakukan perawat kepada pasiennya yang direncanakan secara sadar dan
bertujuan dan kegiatannya difokuskan untuk kesembuhan pasien, dan merupakan
komunikasi professional yang mengarah pada tujuan untuk penyembuhan pasien.
B.
KOMUNIKASI ANTARA
PERAWAT-KLIEN DENGAN KOMUNIKASI ANDA-TEMAN ANDA
Komunikasi antara perawat-klien
dengan komunikasi anda-teman anda memiliki kesamaan, sama-sama menggunakan
komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar
perawat dengan pasien. Persoalan mendasar dan komunikasi ini adalah adanya
saling membutuhan antara perawat dan pasien, sehingga dapat dikategorikan ke
dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien, perawat membantu dan
pasien menerima bantuan. Tetapi, Komunikasi antara perawat-klien dengan
komunikasi anda-teman anda juga memiliki perbedaan dari bahasa yang digunakan
dan maksud komunikasi yang terjalin. Komunikasi antara perawat-klien untuk
membantu kesembuhan klien tersebut, sementara komunikasi anda dengan teman anda
untuk mengobrol saja.
C.
PERBEDAAN KOMUNIKASI SOSIAL
DENGAN KOMUNIKASI THERAPEUTIK
Komunikasi
sosial adalah Kegiatan komunikasi yang diaarahkan pada pencapaian suatu situasi
integrasi sosial. Komunikasi sosial juga merupakan suatu proses
pengaruh-mempengaruhi mencapai keterkaitan sosial yang dicita-citakan antar
individu yang ada di masyarakat.
Komunikasi
sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi itu penting untuk menbangun
konsep diri kita, aktualisasi diri, kelangsungan hidup, memperoleh kebahagian,
terhindar dari tekanan dan ketegangan (lewat komunikasi yang bersifat
menghibur) dan mempinyai hubungan dengan orang lain.
Sedangkan
Komunikasi terapeutik adalah termasuk komunikasi interpersonal dengan titik
tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. Persoalan mendasar
dan komunikasi in adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan pasien,
sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan
pasien, perawat membantu dan pasien menerima bantuan.
Komunikasi terapeutik bukan
pekerjaan yang bisa dikesampingkan, namun harus direncanakan, disengaja, dan
merupakan tindakan profesional. Akan tetapi, jangan sampai karena terlalu asyik
bekerja, kemudian melupakan pasien sebagai manusia dengan beragam latar
belakang dan masalahnya.
D.
KARAKTERISTIK KOMUNIKASI
THERAPEUTIK
1.
Ikhlas
(genuine)
Semua perasaan negatif yang dimiliki oleh pasien
harus bisa diterima dan pendekatan individu dengan verbal maupun non verbal
akan memberikan bantuan kepada pasien untuk mengkomunikasi kondisi secara
tepat.
2.
Empati
(empathy)
Merupakan sikap jujur dalam menerima kondisi pasien,
objektif dalam memberikan penilaian terhadap kondisi pasien dan tidak
berlebihan.
3.
Hangat
(warmth)
Kehangatan dan sikap pormisif yang diberikan
diharapkan pasien dapat memberikan dan mewujudkan ide – idenya tanpa rasa
takut, sehingga pasien bisa mengekspresikan perasaannya lebih mendalam.
E.
KUALITAS PERSONAL SEORANG
PERAWAT
Sebagai seorang perawat,
kemampuan care, core, dan cure harus dipadukan secara seimbang sehingga
menghasilkan asuhan keperawatan yang optimal untuk klien. Lydia Hall
mengemukakan perpaduan tiga aspek tersebut dalam teorinya. Care merupakan
komponen penting yang berasal dari naluri seorang ibu. Core merupakan dasar
dari ilmu sosial yang terdiri dari kemampuan terapeutik, dan kemampuan bekerja
sama dengan tenaga kesehatan lain. Sedangkan cure merupakan dasar dari ilmu
patologi dan terapeutik. Dalam memberikan asuhan keperawatan secara total
kepada klien, maka ketiga unsur ini harus dipadukan (Julia, 1995)
F.
CARA PERAWAT MENINGKATKAN
KESADARAN DIRI MENURUT JENDELA JOHARI.
Prinsip Jendela Johari
1.
Perubahan
satu kuadran akan mempengaruhi kuadran yang lain.
2.
Jika
kuadran satu paling kecil., bermakna komunikasi buruk dan kesadaran diri kurang.
3.
Kuadran
satu paling besar, bermakna individu memiliki kesadaran diri tinggi.
Mengapa kita
perlu meningkatkan kesadaran diri ?
a.
Karena
musuh terbesar kita adalah diri sendiri.
b.
Karena
situasi di sekitar kita berubah setiap saat.
c.
Dinamika
kehidupan selalu diwarnai tantangan dan kompetisi.
d.
Setiap
saat bahaya dan resiko ada di mana-mana.
e.
Karena
kelalaian tidak pernah disadari sebelumnya.
f.
Karena
kesadaran diri membangkitkan rasa tanggung jawab
g.
Kesadaran
diri memampukan kita untuk menggali potensi pribadi terbaik
Terdapat
beberapa cara dalam meningkatkan kesadaran diri:
a.
Introspeksi
diri, Cara ini mudah-mudah sukar, karena tidak semua orang tahu kekuatan dan
kelemahan nya.
b.
Minta
saran dari orang terdekat, seperti kepada orang tua, pasangan, anak, tim kerja,
maka biasanya dari mereka itu kita akan mendapatkan info yang baik, tapi
akurasinya pasti tidak bisa dipertanggung jawabkan, karena itu adalah apa kata
orang tentang diri kita.
c.
Melakukan
foto karakter, dengan konsultasi dengan para behavior analyst, maka kita bisa
tahu kekuatan, kelemahan, tantangan, dan ancaman yang ada dalam diri kita.
Sebagai seorang
calon perawat, kita harus berusaha menjadi perawat professional agar kita bisa menjalankan
tugas kita dengan baik. Mengubah diri kita menjadi personal yang lebih baik.
Dalam Jendela Johari, penting bagi perawat untuk menggambarkan tingkat saling pengertian
antar orang yang berinteraksi. Kita harus membangun keyankinan dan mengenali juga
menghayati siapa kita sebelum mengenali orang lain. Dalam hal ini diibaratkan seorang
perawat harus menjalin komunikasi terlebih dahulu agar terciptanya keyakinan dari
kedua belah pihak demi lancarnya tindakan yang akan dilakukan kepada pasien.
Bekerja sama dengan pasien untuk berdiskusi tentang masalah-masalah yang
merintangi pencapaian tujuan. Dan membangun sesuatu yang mendukung proses
perubahan.
Perawat mendorong
pasien untuk memberikan penilaian atast ujuan yang telah dicapai agar tujuan
yang tercapai adalah kondisi yang saling menguntungkan.
G.
DISKUSI 1
Hangat
|
P , S
|
Kompeten
|
P
|
Peduli
|
P, S
|
Penyendiri
|
X
|
Perhatian
|
P
|
Efisien
|
P, S
|
Memilik pendapat
|
P , S
|
Agresif
|
X
|
Reliabel
|
P
|
Pemalu
|
S
|
Ambisius
|
P
|
Pengasih
|
P, S
|
Assertif (tegas)
|
P
|
Bijaksana
|
P
|
Intelektual
|
P, S
|
Terampil
|
P,S
|
P = Perawat
S= saya
1.
Atribut
yang perlu untuk karier seorang perawat antara lain adalah assertif, kompeten,
pengasih, intelektual, terampil, efisien, dan bijaksana.
2.
Atribut
yang dapat dipelajari untuk seorang perawat adalah perhatian, ambisius,
assertif, kompeten, efisien, bijaksana, dan terampil.
3.
Identifikasi
enam atribut yang umum dipilih oleh mahasiswa dikelas yang merefleksikan
perawat ideal adalah kompeten, bijaksana, hangat, perhatian, terampil, dan
intelektual.
4.
Cara
mendapatkan nilai-nilai profesional tersebut dengan cara :
a.
Bersosialisasi
dengan teman sejawat yang berprofesi sama yang memiliki pengalaman banyak dari
kita.
b.
Dengan
cara mengenali diri kita dahulu
c.
Menerapkan
nilai-nilai profesional dalam kehidupan sehari-hari.
d.
Melatih
komunikasi agar kita bisa menyampaikan setiap tindakan yang akan kita lakukan
pada pasien dengan baik. Secara verbal maupun nonverbal.
e.
Tidak
mencampuri urusan pribadi dan urusan pekerjaan supaya kinerja kita tidak
berantakan.
H.
DISKUSI 2
Menurut kelompok kami, jika nilai personal kita bertentangan
dengan nilai profesionalisme pasti akan mengakibatkan ketidakseimbangan dan sulit
untuk mengaplikasikan nilai personal dengan nilai profesionalisme dalam asuhan keperawatan.
Pada dasarnya kita harus bisa menyeimbangkan nilai personal kita dengan nilai profesionalisme
supaya nilai professional dapat dijadikan cerminan dan pengembangan dari nilai-nilai
personal.
Untuk mengatasi konflik nilai yang
terjadi, kita harus mengkaji diri kita dan mulai merubah diri dengan mengenali diri
sendiri, belajar untuk menerapkan nilai-nilai profesionalisme dalam diri kita.
Dalam hal ini nilai personal dan professional harus seimbang.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Komunikasi
antara perawat dengan klien disebut KOMUNIKASI TERAPEUTIK. Komunikasi
terapeutik adalah komunikasi yang dilakukan perawat kepada pasiennya yang
direncanakan secara sadar dan bertujuan dan kegiatannya difokuskan untuk
kesembuhan pasien, dan merupakan komunikasi professional yang mengarah pada
tujuan untuk penyembuhan pasien.
Sebagai
calon perawat, bersosialisasi dengan teman sejawat yang berprofesi sama yang
memiliki pengalaman banyak dari kita merupkan hal yang penting untuk menambah
wawasan kita. Untuk menjadi seorang perawat yang profesional, kita harus lebih
dulu mengenali diri kita agar lebih mudah mengaplikasikannya saat terjun ke
dunia kerja. Mengenali diri sendiri merupakan salah satu cara untuk mempermudah
diri kita saat berkomunikasi dengan pasien dengan watak yang berbeda-beda.
Persoalan
mendasar dari komunikasi adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan
pasien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara
perawat dan pasien, perawat membantu dan pasien menerima bantuan. Tetapi,
Komunikasi antara perawat-klien dengan komunikasi anda-teman anda juga memiliki
perbedaan dari bahasa yang digunakan dan maksud komunikasi yang terjalin.
Komunikasi antara perawat-klien untuk membantu kesembuhan klien tersebut, sementara
komunikasi anda dengan teman anda untuk mengobrol saja.
B.
Saran.
Sebagai calon perawat yang
profesional masih banyak pengkajian diri dalam komunikasi yang harus dilakukan.
Komunikasi yang kita lakukan pada pasien nantinya harus bersifat efektif agar
pasien bisa menerima setiap instruksi yang kita berikan baik secara verbal
maupun nonverbal.
DAFTAR
PUSTAKA
Arwani. (2003). Komunikasi dalam keperawatan. Jakarta:
EGC

0 komentar:
Posting Komentar
Thank you for visiting my blog. See ya!