Catching Fire Komunikasi Terapeutik | Bernessa's Imagination

Sabtu, 28 Maret 2015

Komunikasi Terapeutik

Second papers for this day.
Setiap hari pasti kita selalu berkomunikasi, sama teman, keluarga, dosen/guru dll. Tapi dalam keperawatan, sebuah komunikasi yang dilakukan pada pasien adalah hal yang berbeda atau biasa disebut dengan Komunikasi Terapeutik. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dilakukan/direncanakan oleh perawat pada kliennya untuk mencapai kesembuhan klien tersebut. Komunikasi ini berbeda dengan komunikasi sosial yang biasa kita lakukan dengan orang-orang diluar konteks klien. Berikut penjelasan lebih lanjutnya. 

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Untuk menjadi bagian dari profesi yang mulia seperti perawatan, adalah masalah kebanggaan dan prestasi tersendiri. Meskipun orang mungkin menggunakan istilah “perawat” santai, hanya mereka yang telah melihat kehidupan perawat akan memahami menghormati dan menghargai yang masuk ke dalam profesi ini.
Perawatan bukan hanya profesi, atau pekerjaan yang Anda butuhkan untuk melakukan selama timing shift. Ini adalah tanggung jawab, pengkondisian perilaku, pendekatan terhadap orang, dan dedikasi terhadap penyembuhan orang lain.
Untuk meringkas esensi dari profesi ini, itu bukan tentang kualitas yang Anda dapat memperoleh untuk menjadi perawat itu adalah tentang kualitas yang melekat bahwa Anda dilahirkan dengan yang akan membuat Anda seorang perawat yang besar.Perawat dalam berkomunikasi dengan pasien, termasuk komunikasi terapeutik.
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Komunikasi terapeutik mengarah pada bentuk komunikasi interpersonal.Suatu bentuk pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-kultural dan spiritual yang didasarkan pada pencapaian kebutuhan dasar manusia.
Dalam hal ini asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien bersifat komprehensif, ditujukan pada individu, keluarga dan masyarakat, baik dalam kondisi sehat dan sakit yang mencakup seluruh kehidupan manusia. Sedangkan asuhan yang diberikan berupa bantuian-bantuan kepada pasien karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan serta kurangnya kemampuan dan atau kemauan dalam  melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari secara mandiri.


B.      Rumusan masalah

1.    Role play skenario ini :
Perawat iwan, memulai hari kerjanya dengan ronde ruangan untuk pengkajian, ia mengetuk pintu 203, menunggu 2-3 detik, dan kemudian masukin ruangan tersebut dengan bertemu dengan 2 orang klien yang dirawat diruangan tersebut. Tn abdul, pelayan klien yang baru masuk kemarin sore pintu sedang duduk bersandar di TT nya. Perawat iwan memperkenalkan dirinya, “Selamat pagi pak abdul, saya perawat lita yang akan merawat bapak sampai siang nanti. Ia mengulurkan tangan nya untuk menjabat tangan pak abdul dengan mempertahankan kontak mata dan senyuman lembut. “ bagaimana tidurnya semalam?” ia betanya, dan menunggu respon klien tersebut.
Pak Abdul menjawab, perlu waktu untuk bisa tidur, meskipun saya mengantuk, rasa tidak mudah untuk jauh dari rumah. Di rawat diRS merupakan pengalaman baru bagi saya, saya kaget dengan banyaknya orang dirumah sakit ini. Saat saya masuk RS, saya harus bicara dengan tiga atau empat orang berbeda, ada yang mengaku dari laboratorium, kemudian datang orang gizi, lalu dari radiologi, saya kira yang meminta mereka datang.
Pak Iwan, tidak menyangkal kalau ada banyak jenis pegawai di RS, dan mempersilakan pak Abdul untuk mengajukan pertanyaan tentang semua prosedur terkait dengan kondisinya bila pak Abdul berasa bingung. Perawat iwan menutup tirai dan mulai melakukan mengkajian, dan menjelaskan tujuan tindakan tersebut sebgai kegiatan rutin dan menjelaskan bahawa tindakan rotgen akan dilakukan besok pagi.
Setelah kegiatan penkajian selesai, perawat Iwan pamit kepada pak Abdul sambil mengatakan bahwa ia akan kembali ke pak Abdul untuk memberikan obat pagi serta mengingatkan bila pak Abdul butuh bantuan agar menghungi perawat menggunakan bel yang ada didekatnya.
2.      Komunikasi/ hubungan antara perawat – kien disebut dengan apa ?
3.      Coba identivikasi apakah komunikasi perawat-klien dengan komunikasi anda-teman anda sama bila bedacoba jelaskan perbedaannya?
4.      Apa saja karakteristik dari komunikasi/ hubungan terapeutik?
5.      Kualitas personal seperti apa yang dibutuhkan oleh seorang perawat agar komunikasi yang dilakukan bisa membantu klien menjadi seseorang yang berharga dan menimbulkan dampak bagi kesembuhan klien? Coba jelaskan dari masing-masing kualitas yang diinginkan!
6.      Bagaimana cara perawat meningkatkan kesadaran diri? Coba terangkan menggunakan jendela Johari.
7.      (Masih berada dalam kelompok)
Tujuan : Membantu Anda mengidentifikasi nilai-nilai profesional, fokus dengan fungsi perawat
Prosedur: Isi tiap kata sifat dibawah ini dengan:
S: Bila kata tersebut menggambarkan diri Anda.
P: Bila Anda merasa kalau kata tersebut menggambarkan karakteristik ideal perawat
X: Bila tidak diinginkan
Setiap kata bisa diisi lebih dari satu tanda.



______Hangat
______Peduli
______Perhatian
______Memiliki  
Pendapat
_______Reliable
______Ambisius
______Assertif
______Intelektual
______Kompeten
______Penyendiri
______Efisien
_______Agresif
_______Pemalu
_______Pengasih
_______Bijaksana
_______Terampil



Diskusi:
Diskusikan dalam kelompok karakteristik yang mereflesksikan diri Anda (S) dan karakteristik yang merefleksikan Perawat (P)
a.       Mana atribut yang berlabel S yang perlu untuk karir anda?
b.      Atribut label P mana yang bisa dipelajari?
c.       Dalam kelas, identifikasi enam atribut yang umum dipilih oleh mahasiswa dikelas yang merefleksikan perawat ideal.
d.      Bagaimana cara mendapatkan nilai-nilai profesional tersebut?
8.       a. Apa yang terjadibilanilai-nilai personal andabertentangandengannilai-nilai professional?
b. Apa yang akanandalakukanuntukmengatasikonfliknilaitersebut?

C.     Tujuan Umum
1.      Untuk mengetahui definisi dari komunikasi terapeutikdannilai-nilai personal maupun professional perawat.

D.     Tujuan Khusus
1.      Untuk mengetahui dan memahami komunikasi terapeutik.
2.      Agar calon perawat dapat menerapkan komunikasi terapeutik dalam menghadapi pasien.

E.     Sistematika Penulisan
Dalam makalah ini terdiri dari:
1.      Bab 1, Pendahuluan.
2.      Bab 2, Pembahasan.
3.      Bab 3, Penutup.

BAB II
PEMBAHASAN

Perawat iwan, memulai hari kerjanya dengan ronde ruangan untuk pengkajian, ia mengetuk pintu 203, menunggu 2-3 detik, dan kemudian masukin ruangan tersebut dengan bertemu dengan 2 orang klien yang dirawat diruangan tersebut. Tn abdul, pelayan klien yang baru masuk kemarin sore pintu sedang duduk bersandar di TT nya. Perawat iwan memperkenalkan dirinya.

Perawat iwan: “Selamat pagi pak abdul, saya perawat Iwan yang akan merawat bapak sampai siang nanti. “

Ia mengulurkan tangan nya untuk menjabat tangan pak abdul dengan mempertahankan kontak mata dan senyuman lembut.

Perawat Iwan: “Bagaimana tidurnya semalam, Pak?”

Pak Abdul: “Perlu waktu untuk bisa tidur, meskipun saya mengantuk, rasa tidak mudah untuk jauh dari rumah. Di rawat di RS merupakan pengalaman baru bagi saya, saya kaget dengan banyaknya orang dirumah sakit ini. Saat saya masuk RS, saya harus bicara dengan tiga atau empat orang berbeda, ada yang mengaku dari laboratorium, kemudian datang orang gizi, lalu dari radiologi, saya kira yang meminta mereka datang.”

Pak Iwan tidak menyangkal kalau ada banyak jenis pegawai di RS, dan mempersilakan pak Abdul untuk mengajukan pertanyaan tentang semua prosedur terkait dengan kondisinya bila pak Abdul berasa bingung. Perawat iwan menutup tirai dan mulai melakukan mengkajian.

Perawat iwan: “Tujuan tindakan tersebut sebagai kegiatan rutin dan tindakan rotgen akan dilakukan besok pagi.”
Setelah kegiatan penkajian selesai, perawat Iwan pamit kepada pak Abdul sambil mengatakan bahwa ia akan kembali ke pak Abdul untuk memberikan obat pagi serta mengingatkan bila pak Abdul butuh bantuan agar menghungi perawat menggunakan bel yang ada didekatnya.

A.            KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Komunikasi antara perawat dengan klien disebut KOMUNIKASI TERAPEUTIK. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dilakukan perawat kepada pasiennya yang direncanakan secara sadar dan bertujuan dan kegiatannya difokuskan untuk kesembuhan pasien, dan merupakan komunikasi professional yang mengarah pada tujuan untuk penyembuhan pasien.

B.            KOMUNIKASI ANTARA PERAWAT-KLIEN DENGAN KOMUNIKASI ANDA-TEMAN ANDA
Komunikasi antara perawat-klien dengan komunikasi anda-teman anda memiliki kesamaan, sama-sama menggunakan komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. Persoalan mendasar dan komunikasi ini adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan pasien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien, perawat membantu dan pasien menerima bantuan. Tetapi, Komunikasi antara perawat-klien dengan komunikasi anda-teman anda juga memiliki perbedaan dari bahasa yang digunakan dan maksud komunikasi yang terjalin. Komunikasi antara perawat-klien untuk membantu kesembuhan klien tersebut, sementara komunikasi anda dengan teman anda untuk mengobrol saja.

C.          PERBEDAAN KOMUNIKASI SOSIAL DENGAN KOMUNIKASI THERAPEUTIK
Komunikasi sosial adalah Kegiatan komunikasi yang diaarahkan pada pencapaian suatu situasi integrasi sosial. Komunikasi sosial juga merupakan suatu proses pengaruh-mempengaruhi mencapai keterkaitan sosial yang dicita-citakan antar individu yang ada di masyarakat.
Komunikasi sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi itu penting untuk menbangun konsep diri kita, aktualisasi diri, kelangsungan hidup, memperoleh kebahagian, terhindar dari tekanan dan ketegangan (lewat komunikasi yang bersifat menghibur) dan mempinyai hubungan dengan orang lain.
               Sedangkan Komunikasi terapeutik adalah termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. Persoalan mendasar dan komunikasi in adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan pasien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien, perawat membantu dan pasien menerima bantuan.
Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa dikesampingkan, namun harus direncanakan, disengaja, dan merupakan tindakan profesional. Akan tetapi, jangan sampai karena terlalu asyik bekerja, kemudian melupakan pasien sebagai manusia dengan beragam latar belakang dan masalahnya.

D.          KARAKTERISTIK KOMUNIKASI THERAPEUTIK
1.    Ikhlas (genuine)
Semua perasaan negatif yang dimiliki oleh pasien harus bisa diterima dan pendekatan individu dengan verbal maupun non verbal akan memberikan bantuan kepada pasien untuk mengkomunikasi kondisi secara tepat.
2.    Empati (empathy)
Merupakan sikap jujur dalam menerima kondisi pasien, objektif dalam memberikan penilaian terhadap kondisi pasien dan tidak berlebihan.
3.    Hangat (warmth)
Kehangatan dan sikap pormisif yang diberikan diharapkan pasien dapat memberikan dan mewujudkan ide – idenya tanpa rasa takut, sehingga pasien bisa mengekspresikan perasaannya lebih mendalam.

E.            KUALITAS PERSONAL SEORANG PERAWAT
Sebagai seorang perawat, kemampuan care, core, dan cure harus dipadukan secara seimbang sehingga menghasilkan asuhan keperawatan yang optimal untuk klien. Lydia Hall mengemukakan perpaduan tiga aspek tersebut dalam teorinya. Care merupakan komponen penting yang berasal dari naluri seorang ibu. Core merupakan dasar dari ilmu sosial yang terdiri dari kemampuan terapeutik, dan kemampuan bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain. Sedangkan cure merupakan dasar dari ilmu patologi dan terapeutik. Dalam memberikan asuhan keperawatan secara total kepada klien, maka ketiga unsur ini harus dipadukan (Julia, 1995)

F.             CARA PERAWAT MENINGKATKAN KESADARAN DIRI MENURUT JENDELA JOHARI.

Prinsip Jendela Johari
1.    Perubahan satu kuadran akan mempengaruhi kuadran yang lain.
2.    Jika kuadran satu paling kecil., bermakna komunikasi buruk dan kesadaran diri kurang.
3.    Kuadran satu paling besar, bermakna individu memiliki kesadaran diri tinggi.
Mengapa kita perlu meningkatkan kesadaran diri ?
a.    Karena musuh terbesar kita adalah diri sendiri.
b.    Karena situasi di sekitar kita berubah setiap saat.
c.    Dinamika kehidupan selalu diwarnai tantangan dan kompetisi.
d.    Setiap saat bahaya dan resiko ada di mana-mana.
e.    Karena kelalaian tidak pernah disadari sebelumnya.
f.     Karena kesadaran diri membangkitkan rasa tanggung jawab
g.    Kesadaran diri memampukan kita untuk menggali potensi pribadi terbaik

Terdapat beberapa cara dalam meningkatkan kesadaran diri:
a.    Introspeksi diri, Cara ini mudah-mudah sukar, karena tidak semua orang tahu kekuatan dan kelemahan nya.
b.    Minta saran dari orang terdekat, seperti kepada orang tua, pasangan, anak, tim kerja, maka biasanya dari mereka itu kita akan mendapatkan info yang baik, tapi akurasinya pasti tidak bisa dipertanggung jawabkan, karena itu adalah apa kata orang tentang diri kita.
c.    Melakukan foto karakter, dengan konsultasi dengan para behavior analyst, maka kita bisa tahu kekuatan, kelemahan, tantangan, dan ancaman yang ada dalam diri kita.

Sebagai seorang calon perawat, kita harus berusaha menjadi perawat professional agar kita bisa menjalankan tugas kita dengan baik. Mengubah diri kita menjadi personal yang lebih baik. Dalam Jendela Johari, penting bagi perawat untuk menggambarkan tingkat saling pengertian antar orang yang berinteraksi. Kita harus membangun keyankinan dan mengenali juga menghayati siapa kita sebelum mengenali orang lain. Dalam hal ini diibaratkan seorang perawat harus menjalin komunikasi terlebih dahulu agar terciptanya keyakinan dari kedua belah pihak demi lancarnya tindakan yang akan dilakukan kepada pasien. Bekerja sama dengan pasien untuk berdiskusi tentang masalah-masalah yang merintangi pencapaian tujuan. Dan membangun sesuatu yang mendukung proses perubahan.
Perawat mendorong pasien untuk memberikan penilaian atast ujuan yang telah dicapai agar tujuan yang tercapai adalah kondisi yang saling menguntungkan.

G.           DISKUSI 1
Hangat
P , S
Kompeten
P
Peduli
P, S
Penyendiri
X
Perhatian
P
Efisien
P, S
Memilik pendapat
P , S
Agresif
X
Reliabel
P
Pemalu
S
Ambisius
P
Pengasih
P, S
Assertif (tegas)
P
Bijaksana
P
Intelektual
P, S
Terampil
P,S

P = Perawat
S= saya

1.    Atribut yang perlu untuk karier seorang perawat antara lain adalah assertif, kompeten, pengasih, intelektual, terampil, efisien, dan bijaksana.
2.    Atribut yang dapat dipelajari untuk seorang perawat adalah perhatian, ambisius, assertif, kompeten, efisien, bijaksana, dan terampil.
3.    Identifikasi enam atribut yang umum dipilih oleh mahasiswa dikelas yang merefleksikan perawat ideal adalah kompeten, bijaksana, hangat, perhatian, terampil, dan intelektual.
4.    Cara mendapatkan nilai-nilai profesional tersebut dengan cara :
a.    Bersosialisasi dengan teman sejawat yang berprofesi sama yang memiliki pengalaman banyak dari kita.
b.    Dengan cara mengenali diri kita dahulu
c.    Menerapkan nilai-nilai profesional dalam kehidupan sehari-hari.
d.    Melatih komunikasi agar kita bisa menyampaikan setiap tindakan yang akan kita lakukan pada pasien dengan baik. Secara verbal maupun nonverbal.
e.    Tidak mencampuri urusan pribadi dan urusan pekerjaan supaya kinerja kita tidak berantakan.

H.                DISKUSI 2
Menurut kelompok kami, jika nilai personal kita bertentangan dengan nilai profesionalisme pasti akan mengakibatkan ketidakseimbangan dan sulit untuk mengaplikasikan nilai personal dengan nilai profesionalisme dalam asuhan keperawatan. Pada dasarnya kita harus bisa menyeimbangkan nilai personal kita dengan nilai profesionalisme supaya nilai professional dapat dijadikan cerminan dan pengembangan dari nilai-nilai personal.
            Untuk mengatasi konflik nilai yang terjadi, kita harus mengkaji diri kita dan mulai merubah diri dengan mengenali diri sendiri, belajar untuk menerapkan nilai-nilai profesionalisme dalam diri kita. Dalam hal ini nilai personal dan professional harus seimbang.



BAB III
PENUTUP

A.          Kesimpulan
Komunikasi antara perawat dengan klien disebut KOMUNIKASI TERAPEUTIK. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dilakukan perawat kepada pasiennya yang direncanakan secara sadar dan bertujuan dan kegiatannya difokuskan untuk kesembuhan pasien, dan merupakan komunikasi professional yang mengarah pada tujuan untuk penyembuhan pasien.
Sebagai calon perawat, bersosialisasi dengan teman sejawat yang berprofesi sama yang memiliki pengalaman banyak dari kita merupkan hal yang penting untuk menambah wawasan kita. Untuk menjadi seorang perawat yang profesional, kita harus lebih dulu mengenali diri kita agar lebih mudah mengaplikasikannya saat terjun ke dunia kerja. Mengenali diri sendiri merupakan salah satu cara untuk mempermudah diri kita saat berkomunikasi dengan pasien dengan watak yang berbeda-beda.
Persoalan mendasar dari komunikasi adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan pasien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien, perawat membantu dan pasien menerima bantuan. Tetapi, Komunikasi antara perawat-klien dengan komunikasi anda-teman anda juga memiliki perbedaan dari bahasa yang digunakan dan maksud komunikasi yang terjalin. Komunikasi antara perawat-klien untuk membantu kesembuhan klien tersebut, sementara komunikasi anda dengan teman anda untuk mengobrol saja.

B.          Saran.
Sebagai calon perawat yang profesional masih banyak pengkajian diri dalam komunikasi yang harus dilakukan. Komunikasi yang kita lakukan pada pasien nantinya harus bersifat efektif agar pasien bisa menerima setiap instruksi yang kita berikan baik secara verbal maupun nonverbal.




DAFTAR PUSTAKA
Arwani. (2003). Komunikasi dalam keperawatan. Jakarta: EGC

0 komentar:

Posting Komentar

Thank you for visiting my blog. See ya!

 
Free Joomla TemplatesFree Blogger TemplatesFree Website TemplatesFree Wordpress Themes TemplatesFree CSS TemplatesFree Wordpress ThemesFree CSS Templates dreamweaver