Smile
Kawaguchi Ryuumei
.
Beelzebub
Ryuhei Temura
.
Hari yang terik bagi sang
penguasa Ishiyama. Saking teriknya, Ia bahkan rela untuk membaringkan diri
diatas bongkahan es besar yang kebetulan sang penjual lewat di depan rumahnya.
Dengan bermodalkan uang pas-pasan dan tampang sangar produksi asli orang tuanya,
Oga Tatsumi berhasil membuat sang penjual berlinang air mata dan menyerahkan
bongkahan es besar tersebut dengan muka semelas-melasnya.
Tapi meski begitu, tetap saja
sang terik matahari ini yang menang. Ditambah lagi dengan si bayi iblis yang
sekarang malah tidur dengan nikmat di atas perutnya. Si bayi itu sedang sakit.
Ah bukan, tapi terpaksa sakit. Alasannya? Karena Beel dipaksa memakai baju oleh
Oga yang juga ternyata dipaksa oleh orang tua tercintanya. Kedua sejoli itu
merasa malu melihat Beel tanpa busana –yang sebenarnya sangat menguntungkan
bagi Oga, karna tak perlu repot-repot mengganti baju si bayi iblis. Hasilnya?
Bisa dirasakan langsung dari teriknya matahari akibat Beel yang gerah karena
memakai baju berbahan nylon ketat,
berwarna hitam pula.
Oh Kami-sama, betapa encernya otak makhluk ciptaan-Mu yang satu ini.
Dewi Fortuna sekarang ini
tengah berpihak padanya. Hilda, si dayang yang doyan marah pada Oga, sedang kembali ke dunia iblis untuk menghadap
sang raja. Entah apa yang akan dilakukan iblis montok nan seksi tersebut pada
laki-laki berambut kecoklatan ini kalau mengetahui sang tuan memakai baju tak
elit seperti itu. Tapi sayang seribu sayang, otak cetek milik Oga tak pernah
mampu berfikir lebih jauh untuk menganalisa tingkat kebodohannya.
.
Hujan datang ditemani dengan
petir yang menggelegar, menyambut kepulangan si iblis montok penggoda iman
setiap laki-laki –sebenarnya pembawa petaka– khususnya bagi Oga Tatsumi.
Ia yang sedang asik berlayar
kepulau mimpi harus meninggalkan kekuasaannya di sana –Hilda dengan tiba-tiba
menendang bokongnya. Tak elit, Ia jatuh dengan wajah tersungkur dilantai,
disambut dengan teriakan girang dari Beel.
“Apa yang kau lakukan pada Tuan
Muda?”
CTARR
Petir kembali menggelegar, efek
dramatis dan Oga menatap Hilda dengan mata ngantuknya. Oh, Oga harus segera
mencari saklar lampu secepat mungkin.
Pria dengan gigi tajam itu
mengusap wajahnya dengan heboh setelah sadar dengan posisinya lalu menoleh
menatap Hilda dengan beringas.
“Bisa ‘kan membangunkan dengan cara lebih baik?” Oga mendesis lalu
berdiri.
“Kau belum menjawab pertanyaanku,
bodoh.” Ucap Hilda sengit.
“Pertanyaan apa?” Tanya Oga,
masih mengusap kepalanya.
Sekali lagi Hilda memukul Oga
tepat dikepala. Orang ini, entah memang menyebalkan atau memang bodoh, Hilda
tak pernah mengerti. Bisa-bisanya Beel harus jatuh ke dalam sangkar yang tak
jelas asal-usulnya.
Merasa emosinya tak stabil, Ia
mulai mengambil nafas dan menghembuskannya. “Apa yang kau lakukan pada Tuan
Muda?” tanyanya lebih kalem.
Oga nampak berfikir sejenak. Hantaman
yang dengan telak diberikan pada Hilda membuatnya makin sadar. “Memang apa yang
aku lakukan? Aku menjaganya seperti biasa.”
Hilda mengambil Beel dan
menodongkannya tepat pada wajah ngantuk Oga. “Perlukah kau menjelaskan APA yang
TELAH kau lakukan pada Tuan Muda?” ucapnya tidak santai, menekankan kata ‘apa’
dan ‘telah’ diiringi dengan hujan lokal khas perempuan.
Oga menutar bola matanya. “Oh,
aku hanya memakaikannya baju. Orang tuaku yang memaksanya.” Sahutnya. “Bukankah
kau juga setuju kalau Beel pakai baju?”
“Bukan dengan bahan super ketat
seperti ini!” sahut Hilda dingin sambil meletakkan Beel di kasur. “Bumi bisa
hancur lebih cepat dari ini karna panas.”
Seketika cengiran lebar menghiasi
pemilik wajah yang sedikit tampan ini.
“Kau terdengar menyesal kalau
bumi hancur. Apa raja iblis berubah pikiran? Apa misimu membuatku menghancurkan
bumi sudah mulai pudar? Bagus! Aku bisa mendapatkan kembali hidup normalku.”
Ah~ surga di depan mata! Betapa
indahnya dunia jika Ia mendapatkan kembali hidupnya yang normal seperti dulu.
Oga tak perlu repot-repot menahan emosinya saat para berandal mencoba
menantangnya berduel –meskipun berakhir dengan sebuah pukulan maut yang tak
pernah berhasil di tahannya.
“Tch.” Hilda berdecih begitu
Oga mengeluarkan kalimat super panjang nan penuh keberkahan tersendiri bagi si
pemuda bergigi tajam itu. Namun memang tak bisa dipungkiri, Ia pun belum
mengerti kenapa Ia merasa –harus– keberatan jika bumi dihancurkan.
Something has changed, eh?
Iblis pirang itu menatap Beel
yang sudah tidur kembali dengan wajah datarnya. Tanpa Ia sadari senyum tipis
mulai terukir begitu Beel menggeliat lucu. Ah, meskipun bayi berrambut hijau
ini adalah masternya yang akan menghancurkan bumi ini, Beel tetaplah seorang
bayi. Yah, memang bukan bayi yang wajar, sih. Sebenarnya bisa saja Beel jadi
bayi yang wajar kalau dia lahir di dunia yang wajar dan dari orang tua yang
wajar pula. Dunia ini penuh dengan ketidakwajaran. Ck.
Oga menatap Hilda setelah
menulis daftar kegiatan yang akan dilakukannya nanti jika tanggung jawabnya
sebagai ayah dilepaskan. Senyum tipis yang diperlihatkan dayang itu pada Beel
membuatnya juga ikut tersenyum tipis.
“Kau bisa senyum juga rupanya.”
Oga membuyarkan pandangan Hilda dari Beel dan langsung disambut dengan tatapan
bingung Hilda.
“Apa?” tanyanya.
Oga menunjuk Hilda dengan
telunjuknya. “Kau dan senyum.” Katanya datar.
“Senyum? Aku tidak tersenyum.”
Balasnya singkat.
“Benarkah?” Oga berjalan
mendekati Hilda. “Ayo, tunjukkan sekali lagi senyum itu,”
“Jangan bodoh, aku takkan
pernah melakukannya,”
Oga berdecak pelan. “Sudah
lakukan saja,”
“Senyum yang mana?” Tanya hilda
“Yang tadi,” balas Oga
semangat.
Ia terbawa perkataan Oga dan
mencoba mengulangi senyum yang –kata Oga– beberapa waktu tadi Ia tunjukkan. Hilda
memasang senyum meremehkannya sambil melipat kedua tangannya di depan dada
–meski sejujurnya, posenya yang seperti ini justru membuat bagian tertentu
sedikit menantang di mata Oga.
“Seperti ini?” Tanya Hilda.
Oga menatap Hilda dengan malas.
“Bukan,”
Gadis cantik ini merubah
kembali ekspresinya. Hanya sebuah perubahan kecil di sudut bibirnya. Kurva yang
bahkan tak bisa disebut senyum –setipis apapun itu. Berakhir dengan senyum
penuh rasa angkuh.
“Kau malah terlihat mengerikan,
bodoh.” Ejek Oga.
Hilda menyipitkan matanya
ganas. “Siapa yang kau bilang bodoh? Berkacalah. Lagi pula senyum mana yang kau
maksud?”
Bebal juga ini dayang, pikir Oga.
Hilda hanya mampu menatap Oga
tanpa berkelit lidah, ketika pria itu menangkupkan kedua tangannya pada
wajahnya –tanpa Ia sadari ternyata Oga hanya tinggal selangkah di depannya.
Serius, Hilda tak pernah sedekat ini dengan pria manapun –kecuali Beel, itupun
kalau masih bisa disebut pria yang pada kenyataannya masih seorang bayi
berdosa, atau lawannya yang dengan sengaja Ia injak dan cekik dengan kejam.
Hujan masih mendominasi ruangan
yang hening, Oga masih menatap Hilda dengan wajah sok serius miliknya.
Jempolnya menarik kedua sudut
bibir itu dan membentuk sebuah senyum –paksa– di wajah Hilda –sebuah seringai
di wajahnya tumbuh. Ia menarik tangannya kembali dan memasukkan kedua tangannya
pada kantung celana pendeknya.
“Selama ini kau tidak pernah
senyum dengan tulus. Jangan terlalu kaku. Sesekali tersenyum tulus itu
diperlukan.”
Entah Hilda harus menjelaskan
apa. Ia hanya sedang berusaha menghentikan degup jantungnya yang berpesta.
Selanjutnya yang terjadi
adalah, sebuah senyum tulus yang terus terukir tanpa bantuan jemari Oga.
Meneruskan kurva tersebut meski sensasi aneh masih jelas terasa di wajahnya.
Suara kuapan menginterupsi
senyumannya. Oga berbalik lalu berbaring lagi di sebelah Beel dengan punggung
yang menghadap Hilda. Menutup matanya sejenak untuk istirahat setelah mendapat
‘hadiah’ mengejutkan dari Hilda –tendangan yang Ia dapatkan tadi di bokongnya
membuatnya lelah dalam sekejap.
“Oi,” panggil Oga.
Hilda menghela nafas dan
melipat tangannya. “Apalagi?”
“Tetap tersenyum seperti itu..”
kata Oga dari balik punggungnya. “..untukku,”
Hilda terdiam sebentar. Sekian
detik setelahnya Ia hanya bisa mendengus sekali dan meninggalkan kamar pria itu
dengan sebuah senyum tipis di wajahnya.
Dasar. Selalu sulit untuk ditebak.
.
FIN
It’s my
first fiction in this fandom.
Sebenernya
ragu sih buat publish fic ini. Secara saya ga nonton animenya, Cuma berdasarkan
manga aja itu pun ga sampe tamat /sedikit nyontek dari Crows Zero juga sih,
soalnya ceritanya mirip. Saya Cuma punya sampe vol 7. Males beli lagi gara2 harga
komik sekarang mahal /sobs.
Special
request from Oga –Nadi Rohadi /idk your full name– Sorry, I’m pretty late,
right?
Kalo ga
sesuai maaf ya, gue kurang bisa nguasain seluruh karakter Beelzebub, secara gue
Cuma nebak dari manga aja. Jangan lupa review.
Intinya,
utang gue ke elo lunas. /gue bahkan baru sadar kalo utang ini gue janjiin pas
gue out dari agency.
Kurang lebih
mohon maaf, kritik dan saran sangat ditunggu. Flame acceptable.
Sign,
M

0 komentar:
Posting Komentar
Thank you for visiting my blog. See ya!